Seorang raja pernah meminta air minum. Lalu pembantunya datang membawa segelas air sembari berkata, "Wahai Raja, janganlah Anda minum sebelum menjawab pertanyaan saya." Sang raja menjawab, "Bertanyalah!" Pelayan itu bertanya, "Jika Anda terhalang untuk minum segelas air ini, maka dengan harga berapa Anda berani membayarnya?" Sang raja menjawab, "Dengan separuh kerajaanku." Pelayan itu bertanya lagi, "Jika Anda bisa meminumnya, lalu air itu tertahan di kandung kencing dan tidak bisa keluar, lalu dengan harga berapa Anda berani membayar agar air itu bisa keluar?" Sang raja menjawab, "Dengan seluruh kerajaanku." Pelayan itu berkata, "Jika demikian, berarti kerajaanmu hanya senilai dengan satu tetes air kencing."
Itulah nilai dunia yang banyak diimpikan orang, kekuasaan yang dijadikan bahan rebutan dan kekayaan yang umumnya orang iri kepada siapapun yang memilikinya. Rumput tetangga lebih hijau, begitu pepatah menyebutkan. Seringkali manusia membayangkan enaknya orang, lalu mengandai sekiranya kenikmatan itu bisa berpindah pada dirinya. Dalam waktu yang bersamaan, diapun melupakan taburan nikmat yang telah disandangnya.
Inilah hakikat kemiskinan yang sebenarnya, kefakiran yang sesungguhnya. Meskipun seandainya kenikmatan yang diimpikannya itu bisa diraihnya, tetap saja dia tak akan merasakan puas. Sikap iri dan hasud atas nikmat yang disandang orang lain hanya akan membuat hatinya mengkufuri nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Hati akan berburuk sangka kepada Allah yang menurutnya tak berpihak kepadanya. Dan kebencian akan bersemi atas orang yang diamanahi rejeki oleh sang Pencipta.
Akibat yang paling fatal, bisa saja dia akan menempuh segala cara untuk merebut nikmat yang berada dalam genggaman orang lain, meskipundengan cara yang bathil. Mencuri, menipu, merampok atau bahkan membunuh. Berbeda dengan orang yang zuhud atas apa yang dimiliki manusia, tidak mudah ‘kesengsem’ terhadap milik orang yang belum dia punyai. Dia berlaku qana’ah, ikhtiar secara optimal sebagai kelengkapan tawakal, lalu ridha atas karunia yang Allah berikan. Inilah orang yang kaya jiwa, kaya yang sesungguhnya.
Nabi saw. bersabda, "Bukannya orang kaya itu orang yang banyak harta, akan tetapi orang kaya adalah yang kaya hati." (HR. Bukhari) Bukankah seseorang dikatakan kaya jika telah tercukupi kebutuhan dan keinginannya? Ketika seseorang telah ridha dengan nikmat yang ada di tangannya maka dia jauh lebih kaya dari mereka yang banyak harta namun rakus dan masih ribuan ambisi dunia yang menggelayut di otaknya. Karena inti kefakiran adalah keinginan yang belum terpuaskan.
Sungguh benar sabda Nabi saw., "Beruntunglah orang yang Islam, diberi rejeki yang cukup lalu dia qana’ah atas apa yang Allah karuniakan kepadanya." (HR Muslim
Berikan Komentar