Jika Allah menghendaki kebaikan seseorang, maka Allah akan menjadikan ia sebagai orang yang mau belajar ilmu syar’i.
Begitupun
dengan sebuah keluarga, jika Allah menghendaki suatu keluarga menjadi
baik, maka Allah akan jadikan para penghuninya mau belajar ilmu syar’i.
Karena ilmu adalah cahaya.
Ia adalah penerang di tengah kegelapan, benteng dari serangan syubhat dan sesatnya pemikiran. Apalagi di saat syubhat membanjiri media dan televisi, sementara hal itu menjadi menu yang setiap hari disantap dan ditelan oleh semua anggota keluarga.
Apapun posisi Anda dalam keluarga, bertanggung jawab untuk menyalakan cahaya ilmu di rumah Anda. Apalagi, jika Anda sebagai kepala keluarga.
Allah Ta’ala berfirman,
“Wahai orang-orang yang
beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan
bakarnya manusia dan batu”.(At-Tahrim : 6)
Qatadah menafsirkan
ayat tersebut, “Hendaknya ia memerintah mereka berbuat taat kepada
Allah, mencegah mereka dari maksiat kepada-Nya, hendaknya menjaga
mereka untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah dan membantu
mereka di dalamnya. Maka apabila kamu melihat kemaksiatan, hendaknya
engkau menjauhkan mereka darinya dan memperingatkan untuk tidak
melakukan-nya”.
Namun, untuk membedakan mana
yang taat dan mana maksiat, hanya dengan ilmu. Karena itu, adh-Dhahhak
dan Muqatil menafsirkan ayat tersebut, “Wajib bagi setiap muslim,
mengajarkan keluarganya, kerabat dan hamba sahayanya akan apa yang
diwajibkan oleh Allah atas mereka, dan apa yang dilarang-Nya.” Hal
senada dikatakan oleh At-Thabari, “Hendaknya kita mengajari anak-anak
dan keluarga kita masalah agama dan kebaikan, serta apa-apa yang
penting dan dibutuhkan dalam persoalan adab dan akhlak.”
Memang
benar, ilmu sains dan teknologi, ilmu tentang bisnis, ilmu tentang
hal-hal yang mendatangkan maslahat dan kemapanan hidup itu penting.
Tapi, sesungguhnya ilmu syar’i jauh lebih penting. Karena ilmu duniawi
yang berada di tangan orang yang tak memiliki ilmu syar’i, mengandung
potensi yang berbahaya. Begitupun segala ke-maslahatan yang bersifat
duniawi, hanya bersifat semu jika tidak dilandasi ibadah. Sedangkan
pintu dari segala bentuk ibadah adalah ilmu syar’i.
Yang patut disayangkan, sebagian aktivis yang bersemangat untuk berdakwah di luar, mengajarkan ilmu syar’i kepada masyarakat, atau menjadi guru ngaji untuk anak-anak dan semisalnya, tidak berpikir untuk menerangi rumahnya dengan cahaya ilmu, menyampai-kan ilmu syar’i kepada anggota keluarganya. Mungkin tidak punya nyali, pesimis dan memvonis bahwa anggota keluarga ‘susah’ untuk diajak baik. Padahal, kesungguhannya untuk mendakwahi keluarga belum segigih perjuangannya dalam mendakwahi masyarakat.
Mestinya, keluargalah yang lebih
berhak untuk lebih dahulu menikmati indahnya ilmu syar’i yang kita
sajikan. Bukankah kita ingin agar mereka berkeluarga dengan kita di
jannah sebagaimana mereka menjadi keluarga kita di dunia? Bukankah kita
tidak tega tatkala melihat seorang anggota keluarga kita sakit parah
dan menderita? Sedangkan penderitaan di akhirat jauh lebih menyakitkan
dan tak ada ujung habisnya, kecuali jika ia memiliki sesuatu yang
membuatnya bisa terangkat dari neraka. Untuk itu, nyalakan pelita ilmu
di rumahmu. (Abu Umar A)
Berikan Komentar