Nyalakan lentera ilmu di rumahmu

Jika Allah menghendaki kebaikan seseorang, maka Allah akan menjadikan ia sebagai orang yang mau belajar ilmu syar’i.
Begitupun dengan sebuah keluarga, jika Allah menghendaki suatu keluarga menjadi baik, maka Allah akan jadikan para penghuninya mau belajar ilmu syar’i. Karena ilmu adalah cahaya.

Ia adalah penerang di tengah kegelapan, benteng dari serangan syubhat dan sesatnya pemikiran. Apalagi di saat syubhat membanjiri media dan televisi, sementara hal itu menjadi menu yang setiap hari disantap dan ditelan oleh semua anggota keluarga.

Apapun posisi Anda dalam keluarga, bertanggung jawab untuk menyalakan cahaya ilmu di rumah Anda. Apalagi, jika Anda sebagai kepala keluarga.


More >>
(0) Komentar

Tidak Ada yang Sia-Sia

Meski ilmu kita tentang alam semesta terbatas adanya, keyakinan akan sempurnanya ciptaan Allah di jagad ini harus utuh dan terhunjam kuat di dalam jiwa. Sebab kita percaya bahwa Allah tidak mungkin menciptakan semuanya percuma, sia-sia, tanpa tujuan yang jelas, atau bermain-main saja.
Ya Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, demikianlah ungkapan Ulul Albab yang diabadikan al-Qur\'an sebagai hasil perenungan mereka akan hakikat alam dalam duduk, berdiri, dan berbaringnya mereka. Sebuah pengakuan yang tulus dan tawadhu’ akan keterbatasan manusia di hadapan Sang Mahakuasa yang tak terbatas kuasa-Nya.

Kewajiban Beribadah
Allah menciptakan manusia agar mereka beribadah kepada-Nya saja, tanpa mempersekutukan sesuatu pun dalam peribadatan kepada-Nya. Dalam pencarian manfaat maupun penolakan madharat mereka. Sebuah peribadatan suci murni yang terbebas dari semua bentuk pengotoran, penyimpangan, dan penyelewengan. Sebuah peribadatan yang utuh, tanpa keinginan untuk mendua, membagi ketaatan dan ketundukan kepada selain-Nya.


More >>

(0) Komentar

Biarlah rumput Tetangga Lebih Hijau

"Zuhudlah kamu terhadap apa yang ada di tangan orang-orang, niscaya mereka akan mencintaimu." (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah no. 4092)

Seorang raja pernah meminta air minum. Lalu pembantunya datang membawa segelas air sembari berkata, "Wahai Raja, janganlah Anda minum sebelum menjawab pertanyaan saya." Sang raja menjawab, "Bertanyalah!" Pelayan itu bertanya, "Jika Anda terhalang untuk minum segelas air ini, maka dengan harga berapa Anda berani membayarnya?" Sang raja menjawab, "Dengan separuh kerajaanku." Pelayan itu bertanya lagi, "Jika Anda bisa meminumnya, lalu air itu tertahan di kandung kencing dan tidak bisa keluar, lalu dengan harga berapa Anda berani membayar agar air itu bisa keluar?" Sang raja menjawab, "Dengan seluruh kerajaanku." Pelayan itu berkata, "Jika demikian, berarti kerajaanmu hanya senilai dengan satu tetes air kencing."

Itulah nilai dunia yang banyak diimpikan orang, kekuasaan yang dijadikan bahan rebutan dan kekayaan yang umumnya orang iri kepada siapapun yang memilikinya. Rumput tetangga lebih hijau, begitu pepatah menyebutkan. Seringkali manusia membayangkan enaknya orang, lalu mengandai sekiranya kenikmatan itu bisa berpindah pada dirinya. Dalam waktu yang bersamaan, diapun melupakan taburan nikmat yang telah disandangnya.


More >>
(0) Komentar

Ujub, Celah Setan Menyusup

Dari celah inilah setan masuk, karena umumnya manusia cenderung terhadapnya. Hadirnya rasa ujub pun senyap-senyap, merambat secara bertahap. Karenanya, banyak dosa yang terlupakan, banyak kebaikan terlewatkan, banyak nasihat terabaikan hingga menjadi penyebab kebinasaan.

Yang Sering Mendatangkan Ujub
Orang yang ujub adalah orang yang tak mampu mengukur kadar dirinya secara proporsional. Banyak hal yang umumnya menjadikan seseorang itu menjadi ujub. Penyakit ini semakin kronis ketika ada orang suka menyanjung di hadapannya.
Ada yang ujub karena kekuatan fisiknya, kesehatan badannya atau kebagusan rupanya. Padahal dahulunya berupa sperma yang hina, selama hidup membawa kotoran di perutnya, dan nantinya tubuh itu menjadi santapan belatung di kuburnya.
Ada yang berbangga dengan nasab atau status sosialnya di masyarakat, baik karena berasal dari kalangan pejabat maupun dari kalangan ulama. Pernah, Mutharrif bin Abdillah melihat seseorang berjalan membanggakan diri. Lalu beliau menegurnya, “Wahai hamba Allah, mengapa Anda berjalan dengan gaya yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya?” Orang itu menjawab dengan bangga, “Kamu tahu siapa saya?” Mutharrif menjawab, “Benar, saya tahu persis siapa Anda. Dahulu Anda hanyalah sperma yang hina, nantinya menjadi bangkai yang busuk, dan sekarang kemanapun membawa kotoran dan air kencing.”


More >>
(0) Komentar

Profile

photo

Nama : Invisible Man
Umur : Disembunyikan
Zodiak : Virgo
selanjutnya tentang saya

Cari Artikel

Artikel Sebelumnya

Kategori Artikel

Arsip

Gallery Foto

Belum ada gallery

Jadwal Hari Ini


rss feed rss feed   statistik statistik
m3-blog
home signup